Rabu, 23 Mei 2012

Perkembangan Media Cetak; Surat Kabar dan Majalah #tugas


I. Sejarah Surat Kabar Dunia

Sebelum mengenal tulisan, manusia berkomunikasi menggunakan lisan. Sama halnya dalam berkomunikasi, manusia pada zaman tersebut menyampaikan kabar ataupun pengumuman dari mulut ke mulut. Setelah mengenal tulisan, manusia menyampaikan kabar melalui surat tertulis dan papan pengumuman. Sebelum lahirnya suratkabar, ada dua jenis terbitan berita periodik yaitu lembaran berita dengan tulisan tangan, dan lembaran pemberitaan tunggal. Kedua media tersebut muncul bersamaan.
Pertama di awal kerajaan Romawi yang diprakarsai oleh Raja Imam Agung. Papan pengumuman ini disebut “Annals” dan digantungkan di setiap serambi rumah. Annals berfungsi sebagai pemberitahuan bagi setiap orang yang lewat dan memerlukannya. Saat Julius Caesar berkuasa pada tahun 100-44 SM, ia memerintahkan agar kegiatan setiap anggota senat dan hasil sidang diumumkan pada “Acta Diurna”, yang juga berisi tentang kejadian sehari-hari, peraturan-peraturan penting, dan hal-hal yang perlu disampaikan dan diketahui oleh rakyatnya. Acta Diurna dicetak ke dalam sebongkah batu atau selembar logam, kemudian dipasang atau ditempelkan di pusat kota yang disebut “Forum Romanum” (Stadion Romawi) untuk diketahui umum.
Berita dari Acta Diurna diebarluaskan oleh para “Diurnanii”. Diurnarii adalah sebutan untuk orang-orang yang bekerja membuat catatan dari hasil rapat senat setiap hari untuk para tuan tanah dan hartawan. Kata jurnalistik secara harfiah berasal dari Acta Diurna yaitu “Diurnal” yang dalam bahasa Latin berarti “harian” atau “setiap hari”. Kemudian diadopsi ke dalam bahasa Perancis menjadi “Du Jour” dan bahasa Inggris “Journal” yang berarti “hari”, “catatan harian” atau “laporan”. Dan dari kata “Diunarii” muncul kata “Diurnalis” atau “journalist” (wartawan).
Kemudian di Cina muncul lembaran berita terbitan pemerintah yang disebut “Tching-pao” atau King pau  yang berarti kabar dari istana. King Pau beredar di kantor pengadilan selama masa kekuasaan Dinasti Han. Pada tahun 713-734 M, Dinasti Tang menerbitkan Kai Yuan Zan Bao yang diwartakan oleh pejabat resmi pemerintahan. Kai Yuan Zan Bao ditulis tangan pada sehelai kain sutra. Pada tahun 1351 M, Kaisar Quang Soo mengedarkannya secara teratur secara seminggu sekali. Kemudian pada tahun 1582 ditemukan surat kabar pertama yang diterbitkan oleh pihak swasta asing di Beijing. Surat kabar tersebut dicetak pada sebidang kayu dan dipublikasikan secara pribadi pada akhir masa pemerintahan Dinasti Ming.
Penyampaian informasi melalui surat kabar didukung penemuan mesin cetak oleh Gutenberg pada tahun 1450. Salah satu berita terbesar yang pertama kali diberitakan adalah pengumuman hasil ekspedisi Christoper Columbus ke Benua Amerika pada tahun 1493.  Pada tahun 1556, Pemerintah Venesia menerbitkan Notizie Scritte yang terbit bulanan dengan harga satu gazetta. Media ini ditulis tangan dan berisi kumpulan berita yang digunakan untuk menyampaikan berita politik, militer, dan ekonomi secara cepat dan efisien ke seluruh Eropa, khususnya Italia.
Media-media tersebut tidak layak disebut sebagai surat kabar karena tidak diperuntukkan untuk masyarakat umum dan terbatas pada topik tertentu. Pada awal tahun 1600-an, penerbitan yang menjadi cikal bakal surat kabar beredar di Inggris dan Perancis. Sebuah kumpulan berita yang dikenal bernama “Relations” atau “Relaciones” dalam bahasa Spanyol. Media penyiaran berita umumnya dicetak dalam lembaran besar kemudian dipasang di tempat umum. Terbitan tersebut menyerupai pamflet dan untuk berita yang panjang berupa buku kecil ditambah dengan ilustrasi sederhana. Terbitan tersebut sering dibacakan keras-keras karena rasio buta huruf yang tinggi.
Istilah surat kabar umum digunakan pada abad ke-17. Namun, pada awal abad ke-16 muncul surat kabar seperti sekarang di Jerman. Media tersebut dicetak, memiliki tanggal terbit, terbit teratur, dan keragaman berita. Surat kabar pertama dikenal dengan nama Strasbourg Relation. Surat kabar Jerman diatur berdasarkan asal penerbit, tanggal, dan memuat halaman muka yang menarik. Relation aller Fürnemmen und gedenckwürdigen Historien merupakan relation berbahasa Jerman yang diakui sebagai surat kabar pertama. Tepatnya pada tahun 1605 Johann Carolus menerbitkannya di kota Strasbourg. Surat kabar modern pertama Jerman dicetak di Wolfenbüttel, dan disebut Avisa.
Pada tahun 1620 surat kabar berbahasa Inggris pertama, Corrant dicetak di Amsterdam dan diterbitkan di Italia dan Jerman. La Gazette yang semula bernama Gazette de France adalah surat kabar pertama di Perancis yang terbit pada tahun 1631. Surat kabar berbahasa Spanyol pertama, Gaceta de Madrid terbit pada tahun 1661. Post-och Inrikes Tidnigar (semula bernama Ordinari Post Tijdender) diterbitkan di Swedia pertama kali pada tahun 1645 dan menjadi surat kabar tertua yang masih terbit hingga saat ini walaupun berbentuk online. Pada tahun 1656 diterbitkan surat kabar Opregte Haarlemsche Courant dari Haarlem, dan merupakan surat kabar tertua yang masih terbit dalam bentuk cetakan hingga saat ini. Ketika Jerman menguasai Belanda pada tahun 1942, penerbitan dilebur dengan perusahaan Haarlems Dagblad. Sejak saat itu, penerbitan surat kabar ini selalu mencantumkan tulisan Oprechte Haerlemse Courant 1656.
Nathaniel Butter dianggap sebagai orang pertama yang menciptakan surat kabar berbahasa Inggris yang terbit secara berkala pada tahun 1622. Pada tahun 1665 di Inggris, terdapat surat kabar pertama yang terbit teratur setiap hari bernama “Oxford Gazette”. Ketika Henry Muddiman menjadi editor, Oxford Gazette berubah nama menjadi “London Gazette”. Henry adalah orang pertama yang menggunakan istilah “Newspaper”. The Daily Courant pada tahun 1702 menjadi surat kabar yang memberitakan masalah politik dan pemerintahan.
Di Amerika Serikat, seorang berkebangsaan Inggris bernama Benjamin Harris menerbitkan surat kabar pertama pada tahun 1690 dengan nama “Public Occurences Both Foreign and Domestick” di Boston. Surat kabar ini tidak bertahan lama karena tidak memiliki izin resmi penerbitan. Surat kabar pertama yang memiliki izin penerbitan adalah Boston News-Letter yang terbit secara berkala di negara bagian Boston pada tahun 1704. The Pennsylvania Evening Post merupakan harian pertama yang memenuhi kebutuhan informasi masyarakat Pennsylvania pada tahun 1783.


II. Karakteristik Surat Kabar
Karakteristik surat kabar sebagai media massa mencakup :
1.      Publisitas
Disebut juga publicity yang merupakan penyebaran pada publik atau khalayak (Effendy, dalam Karlinah, dkk. 1999). Salah satu karakteristik media massa adalah pesan dapat diterima oleh sebanyak-banyaknya khalayak karena pesan tersebut penting untuk diketahui umum. Dengan demikian, pesan-pesan melalui surat kabar harus memenuhi kriteria tersebut.
2.      Periodesisasi
Menunjuk pada keteraturan terbitnya. Sifat ini sangat penting dimiliki media massa. Sama seperti halnya makan, manusia setiap hari membutuhkan informasi. Maka surat kabar harus memiliki periodisasai terbitnya surat kabar tersebut.
3.      Universalitas
Menunjuk pada kesemestaan isinya, yang beraneka ragam dan dari seluruh dunia. Isi surat kabar meliputi seluruh aspek kehidupan manusia, seperti masalah sosial ekonomi dan lain-lain. Selain itu, lingkup kegiatannya bersifat lokal, regional, nasional bahkan  internasional. Jadi bila penerbitan hanya memiliki satu aspek saja, terbitan tersebut tidak bisa disebut dengan surat kabar.
4.      Aktualitas
Menurut kata asalnya, aktualitas berarti “kini” dan “keadaan sebenarnya”. Kedua istilah tersebut erat kaitannya dengan berita, karena berita adalah laporan tercepat mengenai fakta-fakta atau opini yang menarik minat dan penting. Laporan tercepat menunjukkan kekinian atau terbaru.
5.      Terdokumentasikan
Beberapa pihak seringkali menjadikan berita di koran sebagai kliping atau arsip. Karena berita memang menyajikan berbagai fakta dalam bentuk berita dan artikel.

III. Penerbitan Surat Kabar dalam Hubungannya di Bidang Ekonomi dan Politik
A. Ekonomi
Pada permulaan abad ke-17, Amsterdam menjadi pusat persuratkabaran Eropa.  Surat kabar dianggap sebagai media yang menggambarkan komersialisasi informasi dengan sangat baik. The Corrant out of Italy, Germany etc dan The Courant d’Italie merupakan dua surat kabar yang diterbitkan pertama kali, yaitu pada tahun 1620. Munculnya kedua surat kabar tersebut di lingkungan masyarakat merangsang perkembangan surat kabar mulai dari tahun 1662 hingga saat ini.
Penemuan mesin cetak oleh Gutenberg memicu kesadaran para pengusaha akan pentingnya publisitas. Para pengusaha mulai menawarkan produk-produk mereka melalui iklan-iklan yang dimuat di surat kabar. Surat kabar pada masa itu dianggap sangat efektif menyebarkan pengaruh tertentu terhadap pembaca.
            Pada permulaan abad ke-18, apa yang disebut Asa Briggs dan Peter Burke sebagai “kediktatoran jarak” dapat diatasi dengan  lalu lintas informasi yang membelah Atlantik dari Inggris ke Boston. Saat itu, informasi disajikan lewat lembaran-lembaran kertas yang tidak tersistem. Kebutuhan akan efektifitas penggunaan kertas sehingga memangkas beban angkut sekaligus biayanya lambat laun melahirkan surat kabar.
Disini kami mencoba menjelaskan satu contoh kasus surat kabar yang mempunyai hubungan di bidang ekonomi. Kepemilikan suatu surat kabar tampaknya menjanjikan keuntungan besar jika dilihat dari banyaknya pemasang iklan di surat kabar. Beberapa pengusaha pun tertarik untuk melebarkan sayapnya di dunia media cetak. Selain tujuan finansial, surat kabar juga dapat dijadikan alat propaganda masyarakat yang efektif. Salah satu contohnya adalah kepemilikan La Stampa oleh Fiat S.p.A.
La Stampa adalah salah satu koran nasional besar di Italia. Koran ini sudah berdiri sejak tahun 1867 meski dengan nama berbeda yakni Gazetta Piedmontese. La Stampa sudah berkali-kali berganti pemilik dan pemimpin. Hingga akhirnya pada tahun 1926, sebuah perusahaan otomotif terkemuka di Italia, Fiat, mengambil alih kepemilikan surat kabar nasional ini. Fiat memanfaatkan La Stampa untuk mendukung kegiatan komunikasi dan publikasi produk dari perusahaannya. Bahkan hingga kini, La Stampa masih berada di bawah naungan Fiat S.p.A.

B. Politik
Penemuan mesin cetak juga merangsang para pelaku pemerintahan untuk melakukan propaganda melalui media tertulis, baik propaganda mengenai profil mereka ataupun kebijakan-kebijakan yang akan diterapkan. Seperti yang dilakukan Raja Louis XIV yang "kemegahan" reputasi pemerintahannya (1661) merupakan buah tangan surat kabar.
Praktek propaganda sudah terlihat bahkan pada tahun-tahun sebelum masa pemerintahan Raja Louis XIV. Bersamaan dengan Fronde (Perang Saudara Inggris atau Revolusi Inggris) tahun 1648-1652, terjadi ledakan bahan cetakan dimana propaganda mengenai kebebasan percetakan yang tidak berlisensi dilancarkan. Propaganda tersebut merupakan cikal bakal lahirnya kebebasan pers dewasa ini.
Surat kabar dianggap sebagai wadah masyarakat menyampaikan aspirasi poltiknya. Seperti dalam koran mingguan dalam bahasa Perancis, Gazette d’Amsterdam yang mulai memuat tulisan-tulisan yang mengkritik Gereja Katolik dan kebijaksanaan pemerinta Perancis. Surat kabar merupakan salah satu pelopor munculnya "opini publik" yang pada masa-masa berikutnya berkembang lebih luas menjadi "ruang publik".

IV. Perkembangan Surat Kabar di Indonesia

A. Surat Kabar di Indonesia
­­­            Dalam perkembangannya, surat kabar di Indonesia memiliki runtutan fase yaitu yang pertama kalinya muncul adalah koran Bromartani yang diterbitkan oleh Harteveld & Co di Surakarta menggunakan bahasa Jawa. Koran Bromartani ini merupakan tiga koran tertua di Indonesia. Selain koran Bromartani, ada juga dua koran tertua lainnya yakni Soerat Kabar Bahasa Melayu, yang diterbitkan di Surabaya oleh penerbit E.Fuhri. koran ketiga yaitu Soerat Chabar Batavie yang pertama kali diterbitkan pada hari Sabtu 3 April 1858 oleh pengusaha Longe & Co. Kemudian disusul Selompret Melajoe di Semarang pada tahun 1860.
Pada era ini, di luar Jawa juga lahir sejumlah surat kabar antara lain Celebes Courant dan Makassar Handelsblad di Ujungpandang, Tjahja Siang di Manado, Sumatra Courant dan Padangsch Handelsblad di Padang. Sementara di Batavia juga lahir sejumlah koran. Yang paling popular yakni Bintang Betawi. Hanya saja koran-koran yang terbit pada masa awal sejarah pers tersebut kebanyakan dikelola kaum kolonial.
            Disamping itu, juga terdapat surat kabar asing yang masuk dan beredar di Indonesia. Bahasa yang digunakan masih menggunakan bahasa Belanda, karena surat kabar di masa itu diatur oleh pihak Binnenland Bestur (pengusaha dalam negeri). Hal yang diberitakan hanya hal-hal yang biasa dan ringan dari aktivitas pemerintah yang monoton, kehidupan para raja, dan sultan di Jawa sampai berita ekonomi dan kriminal. Yang pertama kali adalah Bataviase Nouvelles. Surat kabar ini diterbitkan pada jaman kompeni yaitu pada tanggal 7 Agustus 1744. Kala itu, Bataviasche Nouvelles hanya memuat berita tentang acara resepsi pejabat, pengumuman kedatangan kapal, stok barang dagangan, atau berita duka cita. Kemudian pada tanggal 5 Agustus 1810 surat kabar kedua terbit dengan nama De Bataviasche Koloniale Courant oleh Daendles.
Bataviasche Koloniale Courant tercatat sebagai surat kabar pertama yang terbit di Batavia. Surat kabar ketiga terbit pada 29 Februari 1812 dengan nama The Java Gouverment Gazette yang kemudian sering disingkat Java Gazette. Keempat surat kabar berita negara, surat kabar ini diterbitkan pada tahun 1828 dengan menggunakan nama De Bataviasche Courant. Kemudian pada tahun 1836 terbit surat kabar kelima yaitu Soerabaijas Advertentie. Di Surabaya (1835) terbit Soerabajasch Niew en Advertentiebland. Sedangkan di Semarang terbit Semarangsche Advertentiebland dan De Searangsche Courant.
            Kemudian baru pada tahun 1900-an Dr. Wahidin Soedirohusodo menangani surat kabar Redno Dhoemilah dalam dua bahasa yaitu Jawa dan Melayu. Hal ini didasari setelah kolonial Belanda mengijinkan kaum Tionghoa mengelola media cetak. Orang-orang bumiputra baru mulai belajar mengelola koran setelah Tionghoa mulai menerbitkan surat kabar. Pada masa inilah mulai mengkampanyekan nasionalisme, pendidikan masyarakat, persamaan derajat dan budi pekerti.
Redno Dhoemila ini merupakan media pers lokal, hanya saja surat kabar Redno Dhoemilah ini juga didirikan oleh orang Belanda, FL Winter, dengan perusahaan penerbit milik kolonial H Bunning Co. Dan pada tahun 1901 Datuk Sultan Marajo bersama adiknya yang bernama Baharudin Sutan Rajo nan Gadang menerbitkan dan memimpin sendiri sebuah surat kabar yang diberi nama Warta Berita yang merupakan surat kabar pertama di Indonesia yang berbahasa Indonesia, dimiliki dan redakturnya orang Indonesia.



B. Dinamika Pers di Indonesia
Perkembangan pers, dalam hal ini terutama surat kabar di Indonesia dapat dikategorikan ke dalam 8 jaman, yaitu :
1.                   Zaman Penjajahan Belanda.
Memories der Nouvelles merupakan surat kabar pertama yang terbit di Indonesia atas perintah Jan Pieterzoon Coen pada tahun 1615. Surat kabar ini hanya ditulis dengan tangan dan diterbitkan oleh pemerintah VOC. Tanggal 14 Maret 1688, mesin cetak dari Belanda tiba di Indonesia, maka diterbitkanlah surat kabar tercetak yang pertama yang berisi perjanjian antara Belanda dengan sultan Makassar. Sifat koran tercetak pertama tersebut semata-mata komersiil belaka dan isinya adalah berita-berita tentang Indonesia dan Eropa serta dapat dikatakan hanya diusahakan oleh seorang saja, sebab pengusaha merangkap menjadi penerbit, pencetak sekaligus redaktur.
Pada tahun 1828 di Jakarta diterbitkan Javasche Courant yang isinya memuat berita-berita resmi pemerintahan, berita lelang dan berita kutipan dari harian-harian di Eropa. Di Surabaya (1835) terbit Soerabajasch Advertentiebland yang kemudian diganti namanya menjadi Soerabajasch Niews en Advertentiebland dan Semarangsche Courant. Surat kabar yang terbit pada masa itu tidak mempunyai arti secara politis karena lebih merupakan surat kabar periklanan. Tidak lebih dari 1000-2000 eksemplar setiap kali terbit.
Bukan hanya di Jawa saja orang Belanda mengusahakan penerbitan surat kabar, tetapi juga di Sumatera dan Sulawesi. Di Padang pada masa itu terbit Soematra Courant, Padang Handeslsbland dan Bentara Melajoe. Di Makasar (Ujung Pandang) terbit Celebes Courant dan Makassaarch Handelsbland.
Versi lainnya, menurut Van der Kroef, Bromartani disebut sebagai surat kabar Indonesia pertama yang berbahasa melayu. Surat kabar ini terbit di Surakarta pada tahun 1855 yang kemudian disusul beberapa surat kabar lainnya seperti Slompret Melajoe yang terbit di Semarang pada tahun 1860, Bintang Timur pada tahun 1862 di Surabaya dan Matahari di Jakarta. Namun surat kabar-surat kabar tersebut jelas masih jauh di belakang Belanda dan China pada waktu itu. Hal ini disebabkan karena kurangnya tenaga kerja yang cakap, kurangnya dana, adanya tekanan dari penjajahan Belanda dan sedikitnya masyarakat pribumi yang bisa baca tulis.

2.                   Masa Kebangkitan Nasional/ Zaman pergerakan
Diawali munculnya pergerakan Budi utomo pada tanggal 20 Mei 1908, surat kabar Indonesia mulai disebut sebagai surat kabar perjuangan. Surat kabar ini berfungsi sebagai pendorong bangsa Indonesia dalam memperjuangkan nasib & kedudukan bangsa dan untuk menyampaikan azas, tujuan dan program aksi partai mengingat mulai munculnya banyak organisasi pergerakan dari berbagai golongan yang berbeda.
Masing-masing organisasi memiliki surat kabar masing masing. Budi Utomo sendiri menaungi surat kabar seperti Retnodoemilah, Darmo Kondo, Guru Desa dan Medan Priyayi. Sarekat Islam menaungi surat kabar Utusan Hindia, Bendera Islam, dan Kaum Muda. Serta masih banyak surat kabar lainnya yang berada dibawah paying organisasi pergerakan lain. Surat kabar-surat kabar tersebut membawa suara pergerakan dan membangkitkan kesadaran nasional untuk bergerak ke arah pemerintahan sendiri. Dari segi teknik cetak dan tenaga redaksi surat kabar ini masih jauh ketinggalan jika dibandingkan dengan surat kabar buatan belanda. Namun melalui surat kabar tersebut, bangsa Indonesia lebih leluasa, teratur dan terarah dalam menyampaikan aspirasi nasional untuk merdeka.

3.                   Zaman Pendudukan Jepang
Surat kabar Indonesia masih terbit pada awal pendaratan tentara Jepang di Indonesia setelah pecahnya perang Pasifik pada tahun 1941. Namun setelah kurang lebih sebulan lamanya Jepang menduduki Indonesia, surat kabar berbahasa Belanda dihanguskan dan semua surat kabar yang tadinya berusaha berdiri sendiri dipaksa untuk bergabung menjadi satu dengan Jepang. Segala usahanya disesuaikan dengan rencana serta tujuan tentara jepang untuk memenangkan Perang Asia Timur Raya. Sehingga surat kabar-surat kabar Indonesia menemui ajalnya.
Surat kabar baru yang semata-mata menjadi alat pemerintah Jepang mulai diterbitkan. Diantaranya Asia Raya yang terbit di Jakarta, Sinar Baru di Semarang, Suara Asia di Surabaya dan Tjahaja yang diterbitkan di Bandung. Kabar dan berita yang dimuat di surat kabar ini hanyalah yang pro Jepang.
Pers nasional di masa pendudukan Jepang memang mengalami pengekangan dan penderitaan lebih jika dibandingkan dengan masa penjajahan Belanda. Namun tidak sedikit pula keuntungan yang diperoleh. Diantaranya, bertambah luasnya pengalaman karyawan pers Indonesia, tersedianya fasilitas-fasilitas yang lebih lengkap, dalam bidang komersiil mengalami kemajuan.
Di jaman Jepang, oplah surat kabar yang terbit berkisar 20-30 eksemplar perhari dan ini merupakan suatu peningkatan yang cukup bagus. Seperti itulah keadaan pers Indonesia di jaman pendudukan Jepang, di samping banyak hal pahit yang dialami, namun ada juga keuntungan yang diperoleh.


4.                   Masa Revolusi Fisik/ Zaman Kemerdekaan
Setelah diproklamasikannya kemerdekaan Indonesia, dalam periode ini pers Indonesia membawa corak tersendiri dalam sifat dan fungsinya.  Pers Indonesia digolongkan dalam dua kategori, yaitu terbit dan diusahakan di daerah pendudukan sekutu juga Belanda (pers NICA) dan pers yang terbit dan diusahakan di daerah yang dikuasai republik (pers republic). Kedua golongan pers ini sangat berlawanan. Pers Republik berisi semangat mempertahankan kemerdekaan dan menentang usaha pendudukan sekutu. Pers NICA berusaha mempengaruhi rakyat agar menerima kembali Belanda.
Pekerja pers menyadari betapa berpengaruhnya surat kabar sebagai alat pembangkit semangat dan jiwa kepahlawanan maka diterbitkan surat kabar berita Indonesia di Jakarta. Surat kabar ini dianggap sebagai pelopor koran-koran republik. Sehingga terbitlah koran-koran republik lainya di berbagai daerah. Pers Republik memang mengalami berbagai kesulitan di daerah-daerah pendudukan namun pada akhirnya mengalami kemenangan yang gemilang atas pers NICA. Dengan terpaksa Belanda mengakui kedaulatan Republic Indonesia pada desember 1949.
Dalam periode revolusi fisik ini mulai timbul gejala-gejala bahwa pers Indonesia mulai beralih menggunakan cara yang ditempuh dalam lingkup demokrasi liberal. Setelah dikeluarkanya maklumat pemerintah pada November 1945, mulai muncul partai politik yang berusaha mempengaruhi pers dan memiliki surat kabar yang dapat menjadi terompet partai tersebut. Gejala lainnya yaitu penyalahgunaan kemerdekaan pers yang menonjol sehingga istilah-istilah yang sebenarnya kurang pantas digunakan menjadi hal yang sudah biasa digunakan sehari-hari.
Namun jika dilihat secara keseluruhan, peranan pers Indonesia selama revolusi fisik tidaklah kecil. Mereka memelihara semangat perjuangan dan perlawanan rakyat serta menyatukan tekad yang kuat menghadapi kaum penjajah.

5.                   Masa Demokrasi Liberal
Periode ini berkisar tahun 1950 sampai tahun 1959. Merupakan suatu lembaran hitam dalam sejarah pers Indonesia. Untuk memperoleh pengaruh dan dukungan pendapat umum, pers yang pada masa ini mewakili aliran-aliran politik yang saling bertentangan, menyalahgunakan freedom of the press. Bahkan tak jarang melampaui batas kesopanan.
Para wartawan dalam masa liberal ini banyak dihinggapi jiwa liberalitas dan penyakit sinisme. Bahkan krisis moril juga menghinggapi para pekerja pers ini. Mereka memuat berita-berita tak bernilai, tuduhan-tuduhan keji, dan artikel-artikel sensasional yang tidak bermutu. Pers Indonesia seolah tertidur dan lupa akan perjuangan dan pembangunan yang harus dilanjutkan agar mampu mencapai tujuan ke depan.
Dengan dibentuknya kabinet Karya sebagai pengganti kabinet ARI, pers Indonesia mulai bisa dikendalikan. Secara perlahan dan bertahap mulai melaksanakan fungsinya seperti yang diharapkan oleh masyarakat. Untuk mencapai tujuan masyarakat yang adil dan makmurbukan dengan saling jegal-menjegal melainkan bekerja sama. Jika ditilik kembali mengenai fungsi dan sistim pers Indonesia di masa liberal, maka dapat dikatakan bahwa penyelewengan yang dilakukan oleh pihak pers tersebut dikarenakan salahnya mengartikan praktik dari kebebasan per tersebut.

6.                   Masa Demokrasi Terpimpin/ Orde Lama
Masa orde lama dipimpin oleh presiden Soekarno sebagai tindak lanjut dekrit presiden 5 juli 1959. Dalam pelaksanaanya, ternyata prinsip demokrasi yang hendak ditegakkan tidak sesuai dengan pernyataan pemerintah. Bahkan jauh menyimpang dan bertentangan dengan UUD 1945. Kenyataan dari demokrasi terpimpin tersebut tercemin pula dalam dunia pers Indonesia pada masa itu.
Fungsi dan sistem pers dapat dikatakan menganut konsep otoriter. Pers digunakan senagai terompet penguasa dan bertugas mengagung-agungkan pribadi Soekarno sebagai pemimpin besar revolusi dan mengindoktrinasi manipol. Kekangan pers tetap berlaku, bahkan pers diberi tugas sebagai alat kolektif penggerak aksi-aksi masa secara revolusioner dengan membangkitkan jiwa, kehendak, dan tindakan massa dengan tujuan melaksanakan manipol serta segala ketetapan yang diambil pemerintah.
Kurang lebih 10 hari setelah Dekrit Presiden RI menyatakan kembali ke UUD 1945, tindakan tekanan pers terus berlangsung. Terjadi pembredelan terhadap kantor berita PIA dan surat kabar Republik, Pedoman, Berita Indonesia, dan Sin Po. Awal tahun 1960 penekanan kebebasan pers diawali dengan peringatan Menteri Muda Maladi bahwa “langkah-langkah tegas akan dilakukan terhadap surat kabar, majalah-majalah, dan kantor-kantor berita yang tidak menaati peraturan yang diperlukan dalam usaha menerbitkan pers nasional”. Penguasa perang juga mulai mengenakan sanksi-sanksi perizinan terhadap pers.
Tahun 1964 kondisi kebebasan pers makin buruk: digambarkan oleh E.C. Smith dengan mengutip dari Army Handbook bahwa Kementerian Penerangan dan badan-badannya mengontrol semua kegiatan pers. Perubahan ada hampir tidak lebih sekedar perubahan sumber wewenang, karena sensor tetap ketat dan dilakukan secara sepihak.

7.                   Masa Orde Baru
Dengan dikeluarkanya Supersemar oleh presiden Soekarno kepada Jendral Soeharto, maka dimulailah babak baru pemerintahan Indonesia. Dalam periode ini dikatakan bahwa UUD 45 dan Pancasila benar-benar ingin dilaksanakan secara murni dan konsekuen. Sehingga lahirlah istilah pers Pancasila.
Menurut sidang pleno ke 25 Dewan Pers bahwa Pers Pancasila adalah pers Indonesia dalam arti pers yang orientasi, sikap, dan tingkah lakunya didasarkan pada nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945. Hakekat pers Pancasila adalah pers yang sehat, bebas dan bertanggung jawab dalam menjalankan fungsinya sebagai penyebar informasi yang benar dan objektif, penyalur aspirasi rakyat, dan kontrol sosial yang konstruktif.
Masa kebebasan ini berlangsung selama delapan tahun. Namun pers kembali seperti zaman orde lama karena terjadi peristiwa Malari (Lima Belas Januari 1974). Dengan munculnya peristiwa Malari beserta peristiwa-peristiwa lainnya, beberapa surat kabar dilarang terbit/dibredel, diantaranya Kompas, Harian Indonesia Raya dan Majalah Tempo yang merupakan contoh-contoh kentara dalam sensor kekuasaan ini.
Pers pasca peristiwa Malari cenderung pers yang mewakili kepentingan penguasa, pemerintah atau negara. Kontrol terhadap pers ini dipegang melalui Departemen Penerangan dan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Hal inilah yang kemudian memunculkan Aliansi Jurnalis Indepen yang mendeklarasikan diri di Wisma Tempo Sirna Galih, Jawa Barat. Beberapa aktivisnya dimasukkan ke penjara. Pemerintah orde baru menganggap bahwa pers adalah institusi politik yang harus diatur dan dikontrol sebagaimana organisasi masa dan partai politik.

8.                   Masa Reformasi
Titik kebebasan pers mulai terasa lagi saat BJ Habibie menggantikan Soeharto. Banyak media massa yang muncul kemudian dan PWI tidak lagi menjadi satu-satunya organisasi profesi. Kalangan pers kembali bernafas lega karena pemerintah mengeluarkan UU No. 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi manusia dan UU no. 40 tahun 1999 tentang pers.
Dalam UU Pers tersebut dengan tegas dijamin adanya kemerdekaan pers sebagai Hak asasi warga negara (pasal 4) dan terhadap pers nasional tidak lagi diadakan penyensoran, pembredelan, dan pelarangan penyiaran (pasal 4 ayat 2). Dalam mempertanggungjawabkan pemberitaan di depan hukum, wartawan memiliki hak tolak agar wartawan dapat melindungi sumber informasi, dengan cara menolak menyebutkan identitas sumber informasi, kecuali hak tolak gugur apabila demi kepentingan dan ketertiban umum, keselamatan negara yang dinyatakan oleh pengadilan.
Hingga kini kegiatan jurnalisme diatur dengan Undang-Undang Penyiaran dan Kode Etik Jurnalistik yang dikeluarkan Dewan Pers. Namun kegiatan jurnalisme ini juga cukup banyak yang melanggar kode etik pers sehingga masih menimbulkan kontroversi di masyarakat.

V. Majalah

A. Sejarah Majalah
            Kata ‘majalah’ berasal dari bahasa Prancis, yaitu ‘magasin’ yang berarti gudang atau ruang tempat menyimpan sesuatu. Beberapa ahli mendefinisikan kata ‘majalah’ sebagai kumpulan berita, artikel, cerita, iklan, dan sebagainya,yang dicetak dalam lembaran kertas ukuran kuarto atau folio dan dijilid dalam bentuk buku, serta diterbitkan secara berkala. Majalah dapat diterbitkan secara berkala seminggu sekali, dua minggu sekali atau bahkan sebulan sekali namun tidak setiap hari.
            Majalah pertama kali terbit sejak tahun 1665 di Prancis, yaitu Le Journal de savants. Namun pada saat itu majalah ini masih berupa sisipan dari surat kabar. Le Journal de savant ini merupakan majalah periodik yang berisi berita penting dari berbagai buku dan penulis, komentar seni, filsafat, dan iptek.
            Di Inggris, majalah yang pertama kali terbit adalah majalah Tatler, yaitu pada tahun 1709 – 1711 dan The Spectactor pada tahun 1711-1712. Namun kedua majalah tersebut hanyalah merupakan majalah yang terbit singkat. Gentlemen’s Magazine lebih tepat disebut sebagai majalah umum pertama yang terbit di Inggris. Majalah ini mulai terbit pada tahun 1731 dan dapat bertahan hingga tahun tahun 1901. Gentlemen’s Magazine ini berisi berbagai topik tentang sastra, politik, biografi, dan kritisisme. Menyusul sepuluh tahun kemudian, majalah pertama terbit di Amerika Serikat.
            Sedangkan di Indonesia, pada masa – masa awal penerbitan pers, majalah lebih banyak digunakan sebagai media penggerak massa untuk melawan pemerintahan yang tidak berpihak pada masyarakat. Di samping itu majalah juga dijadikan alat penyebaran ideologi, kebijakan, atau untuk memperjuangkan kepentingan kelompok tertentu. Dengan kata lain, pada awalnya penggunaan majalah di Indonesia cenderung bersifat idealis dan politis.
            Kemudian setelah konflik politik mengendur, pers Indonesia mulai menampakkan sisi liberal. Kepentingan yang ada dalam penerbitan majalah mulai bergeser pada kepentingan bisnis yang berorientasi profit. Majalah – majalah baru yang berkonten umum mulai bermunculan dengan tujuan meraih pasar seluas – luasnya demi memperoleh keuntungan sebanyak – banyaknya.

B. Perkembangan Majalah
            Dunia percetakan mengalami kemajuan tak henti – henti sejak dikembangkannya mesin cetak oleh Johannes Guttenberg pada tahun 1455. Penemuan mesin cetak ini secara dramatis telah meningkatkan kecepatan produksi berbagai barang cetakan, yang tentu saja majalah termasuk salah satunya. Dengan adanya mesin cetak ini waktu yang digunakan untuk memproduksi barang cetakan banyak berkurang sehingga produk yang dihasilkan juga semakin banyak.
            Kemajuan teknologi juga merupakan salah satu faktor penting yang menunjang perkembangan majalah. Sebelumnya penerbit media harus cekatan dalam pengumpulan beritadari berbagai tempat. Makin tingginya kecanggihan teknologi cetak mempercepat penyebaran buku dan majalah hingga menjadi massal.
            Perubahan besar pada industri majalah terjadi pada tahun 1890-an, yaitu ketika sejumlah penerbit mulai mengubah industri penerbitan majalah secara revolusioner. Pengubahan industri penerbitan ini terjadi karena para penerbit tersebut melihat adanya ratusan ribu calon pelanggan yang belum terlayani oleh majalah yang ada. Maka dari itu beberapa tokoh penerbit majalah, seperti S.S. McClure, Frank Musey, dan Cyrus Curtis menciptakan majalah yang isinya sesuai dengan selera dan kepentingan orang banyak.
Munsey’s dan McClure’s mulai menyajikan artikel olahraga umum, tulisan tentang perang, lagu-lagu populer, selebritis, dan sebagainya. Sedangkan Curtis menerbitkan majalah kaum ibu yang diberi nama Ladies’ Home Journal. Majalah – majalah lain dengan berbagai fokus yang berbeda, seperti majalah – majalah khusus seni, arsitektur, kesehatan, dan sebagainya pun mulai bermunculan tak lama kemudian. Kondisi ini kemudian menimbulkan sebuah fenomena yang disebut dengan popularisasi dan segmentasi isi.

C. Perkembangan Majalah di Indonesia
           
Perkembangan majalah di Indonesia terbagi menjadi empat fase, yaitu pada masa awal kemerdekaan,  zaman orde lama, zaman orde baru, dan zaman reformasi.
a. Awal kemerdekaan
Pada awal kemerdekaan, semua majalah diterbitkan dengan satu tujuan, yaitu untuk menghancurkan sisa-sisa kekuasaan Belanda. Rakyat Indonesia berusaha untuk mengobarkan semangat perlawanan rakyat terhadap bahaya penjajahan, menempa persatuan nasional untuk keabadian kemerdekaan bangsa serta menegakan kedaulatan rakyat.

b. Zaman orde lama
Nasib majalah pada masa orde lama dapat dikatakan sangat tragis sejak dikeluarkannya pedoman resmi untuk penerbit surat kabar dan majalah di seluruh Indonesia. Dalam pedoman ini surat kabar dan majalah di Indonesia wajib menjadi pendukung, pembela dan alat penyebar “Manifesto Politik” yang pada saat itu menjadi haluan negara dan program pemerintah. Akibatnya perkembangan majalah tidak begitu baik majalah yang terbit relatif sedikit.

c. Zaman orde baru
Awal orde baru banyak majalah terbit dengan cukup beragam jenisnya. Bahkan terdapat kategorisasi majalah yang terbit pada masa orde baru ini, yaitu:
·         majalah berita : Tempo, Gatra, Sinar, Teras
·         majalah keluarga : Ayahbunda, Famili
·         majalah wanita : Femina, Kartini, Sarinah
·         majalah pria : Matra
·         majalah remaja wanita : Gadis, Kawanku
·         majalah remaja pria : Hai
·         majalah anak – anak : Bobo, Ganesha, Aku Anak Saleh

d. Zaman reformasi
Pada zaman reformasi tidak diperlukan lagi Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP) untuk membuka usaha penerbitan. Hal ini membuat berbagai pihak menerbitkan majalah baru dapat terbit sesuai dengan tuntutan pasar.
masa sekarang
Berbeda dengan majalah pada awal diterbitkannya, seiring dengan berkembangnya zaman dan teknologi majalah saat ini dapat langsung diakses melalui berbagai media. Baik melalui internet atau bahkan melalui handphone sekalipun. Hal ini semakin mempermudah masyarakat dalam mengkonsumsi majalah – majalah yang ada.

D. Jenis – jenis Majalah
Secara garis besar, Rivers (1983: 5) membagi majalah ke dalam empat jenis, yaitu:
1.      Mass Magazine
Mass magazine mempunyai oplah yang besar. Jenis majalah ini berusaha menjembatani khalayak dari berbagai latar belakang melalui isinya yang bersifat umum. Contoh dari jenis majalah ini adalah OktoMagazine yang kontennya berisi berbagai macam topik mulai dari kesehatan, makanan dan minuman, seni dan budaya, dan masih banyak lagi.
2.      News Magazine
News magazine memiliki jumlah pembaca yang banyak yang memiliki ketertarikan terhadap isu-isu kontemporer. News magazine memberikan pembaca pemahaman tentang konteks yang ada dalam sebuah peristiwa, bukan sekedar fakta. Contoh : Majalah Tempo.
3.   Class Magazine
Secara harafiah, class magazine dapat diartikan sebagai ‘majalah berkelas’. Kualitas dan konten majalah ini ditujukan bagi pembaca yang berpendidikan tinggi serta tertarik pada urusan publik dan sastra. Meski jumlah pembacanya tidak terlalu banyak, majalah jenis ini mempunyai pengaruh yang cukup kuat karena menghadirkan opini dari para pemimpin atau penguasa. Contoh : Majalah Cakra.
4.   Specialized Magazine
Specialized magazine menyajikan konten spesifik bagi pembaca yang spesifik pula. Majalah jenis ini dibagi menjadi tiga jenis, yaitu:
Business papers: Diterbitkan oleh lembaga independen yang bersifat komersil. Informasi di dalamnya penting bagi bisnis, industri, atau profesi tertentu. Salah satu contohnya adalah Majalah Franchise.
Company publications: Diterbitkan oleh firma/perusahaan dan didistribusikan ke karyawan, pengecer, pelanggan, dan pemegang saham. Contoh dari jenis majalah ini adalah majalah internal perusahaan PT New Ratna Motor “â Nasmoco News â”. Majalah ini bertujuan sebagai media komunikasi antar karyawan PT New Ratna Motor dalam memberikan informasi dan hiburan serta sebagai sarana untuk memberikan motivasi kerja bagi karyawan.
Association journals: Mirip dengan business papers, hanya saja majalah jenis ini diterbitkan oleh asosiasi atau organisasi tertentu. Contoh : Majalah NU Aula.

VI. Penyebab Dampak Negatif Tulisan di Surat Kabar dan Majalah

Hampir di semua negara, kebebasan pers selalu dilindungi oleh undang-undang. Sayangnya, terkadang ada pihak yang menyalahgunakan kebebasan pers ini dengan menulis hal-hal yang memicu protes pembaca. Seperti yang dilakukan surat kabar asal Denmar, Jyllands-Posten, pada edisi 30 September 2005. Pada hari itu mereka menerbitkan dua belas karikatur satir Muhammad, nabi terakhir agama Islam. Entah apa motif sesungguhnya Jyllands-Posten tidak menyensor karikatur berbau SARA ini. Menurut mereka karikatur ini hanyalah ilustrasi artikel yang membahas penyensoran diri (self-censorship) dan kebebasan berpendapat (freedom of speech). Artikel ini ingin menunjukkan bahwa kebebasan berbicara berlaku bagi siapapun.
Sejak Organisasi Konferensi Islam (OKI) mulai menentang karikatur ini pada Desember 2005, kontroversi ini kemudian menghangat di dunia.  Timbullah gelombang protes masyarakat dunia kepada surat kabar ini. Ilustrasi tersebut merupakan sebuah penghinaan besar-besaran terhadap agama Islam serta menunjukan adanya Islamofobia di Denmark. Sekretaris Jenderal PBB pada waktu itu, Kofi Annan, turut menyatakan keprihatinannya akan peristiwa ini dan berkata bahwa “Kebebasan pers, harus selalu diterapkan melalui penghormatan terhadap keyakinan agama dan ajaran seluruh agama”.
Di Indonesia Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pun mengecam keras adanya mengecam keras karikatur Nabi Muhammad ini, namun beliau juga menekankan bahwa umat Muslim diharapkan menerima permintaan maaf sang penggambar dan jangan melakukan tindakan yang melanggar hukum.
Beberapa media massa sempat menerbitkan ulang karikatur ini, termasuk dua tabloid asal Indonesia: Tabloid Gloria dan Tabloid PETA. Pemuatan karikatur Nabi Muhammad SAW ini sempat menimbulkan keresahan masyarakat. Pemimpin Redaksi (Pemred) Tabloid Gloria, David da Silva, memohon maaf pada masyarakat dan mengaku khilaf atas terbitnya tabloid pada edisi 288 pekan ke II Februari 2006. Sekitar 8,000 eksemplar edisi ini pun segera ditarik dari pasaran.
Bahkan Pemimpin Redaksi (Pemred) Tabloid Peta, Wahab, akhirnya ditetapkan jadi tersangka oleh Polda Metro Jaya terkait kasus pemuatan karikatur kontroversial pada Tabloid Peta No. 53 edisi 12 Februari 2006. Selain Wahab, status tersangka juga ditetapkan terhadap Cepi, manajer operasional tabloid itu. Keduanya dikenakan tuduhan dalam pasal 156 A dan pasal 157 tentang penodaan terhadap agama.
Kasus di atas hanyalah salah satu dari sekian contoh tulisan di surat kabar yang bisa berdampak negatif. Banyak motif yang bisa mendalangi tindakan ceroboh tersebut. Baik di sengaja maupun tidak, hendaknya para pelaku media bisa berperilaku lebih selektif terhadap bahan tulisannya.


Daftar Pustaka

Briggs, Asa dan Peter Burke. 2006. SEJARAH SOSIAL MEDIA: Dari Gutenberg Sampai Internet (diterjemahkan oleh Jakob Oetama). Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Flournoy, Don Michael. 1989. Analisa Isi Surat Kabar Indonesia. Yogyakarta : gadjah Mada University Press.
Junaedhie, Kurniawan. 1995. Rahasia Dapur Majalah di Indonesia. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
LP3ES. 1987. Perspektif Pers Indonesia. LP3ES.
Peerboom, Robert. 1970. Surat Kabar (diterjemahkan oleh DRS. S. Rochady). Bandung: Penerbit Alumni.
Rivers, William L. 1983. Magazine Editing in the 80’s: Text and Exercises. California: Wadsworth Publishing Company
Rossani, Celviana. 2010 .”Majalah Internal Perusahaan PT New Ratna Motor â Nasmoco News â Divisi Content (Isi)".Update 22 Desember 2010.archived at:http://eprints.undip.ac.id/24909/
Smith, Edward S. 1983. Sejarah Pembredelan Pers di Indonesia. Jakarta : Grafiti Press.
Taufik, I. 1977. Sejarah dan Perkembangan Pers di Indonesia. Triyinco.
Zaini, Akhmad. 1995. Kisah Pers Indonesia 1974 – 1966. Yogyakarta : LKiS.
Diunduh dari http://www.oktomagazine.com/oktolifestyle/art_culture pada 27 Maret 2012 pukul 20.15 WIB
Diunduh dari http://sejarah.info/2011/11/sejarah-jurnalistik.htmldiunduh tanggal 29 Maret 2012 pukul 18.09
Diunduh dari http://trashytalkie.wordpress.com/ diunduh pada tanggal 29 Maret 2012 pukul 18.18
Diunduh dari http://forum.vivanews.com/sejarah-dan-budaya/208144-sejarah-surat-kabar.html diunduh tanggal 29 Maret 2012 pukul 20.00
Diunduh dari http://www.scribd.com/doc/20102787/Sejarah-Buku-Majalah-Surat-Kabar pada 27 Maret 2011 pukul 21.32 WIB.
Diunduh dari http://www.fiatspa.com/en-US/business/publishing_ communications/Pages/la_stampa.aspx diunduh pada 30 Maret 2012 pukul 09.34 WIB
Diunduh dari http://www.mentari.biz/lomba-karikatur-nabi-muhammad-di-facebook.html diunduh pada 30 Maret 2012 pukul 09.47 WIB
Diunduh dari http://arsip.gatra.com/artikel.php?id=92168 diunduh pada 30 Maret 2012 pukul 09.49 WIB

5 komentar: