Rabu, 16 Mei 2012

Dramatism


Am I always be my self? Sometimes not.
Am I always saying the truth? Sometimes yes.
Am I always loving what I trully love? Sometimes no.
Am I always doing everything based ‘what people want’? Hmmm...
My life, my drama. And I’m the scripwriter and the actor too. God direct me. Or I directing my self?
And (all of)  you, just a complement in my life..
Do you ever feel  tired with all of your drama queen??
And..can you get your answer from this all question?

Ketika banyak orang berkata bahwa saya cerewet, ceplas ceplos, pinter ngomong dan lain-lain, ketika itu juga saya membangun pencitraan diri saya di depan orang-orang. Pernahkah anda berfikir bahwa apa yang anda lakukan di depan orang-orang itu sebenarnya bukan ‘benar-benar diri anda sendiri’? Tapi hanya usaha membangun citra anda sesuai apa yang orang lain inginkan dari anda.
Kalau disuruh menjelaskan, saya juga tidak mengerti. Jadi, kapan anda benar-benar menjadi diri anda sendiri? Dalam salah satu mata kuliah saya, ada satu chapter berjudul Dramatism. Pemahaman saya, orang akan selalu melakukan drama dalam setiap hidupnya. Di hadapan siapapun. Semakin banyak orang, ataupun semakin luas publicsphere tempat anda berada, maka tingkah laku anda akan semakin terkontrol. Dalam kata lain, drama yang anda lakukan akan lebih dramatis lagi.
Slogan ’be your self’ feels being more bullshit for me. Kenapa? Yaaa karena setiap hari kita dituntut menjadi seseorang yang orang lain suka/ ingin lihat dari diri kita. Mengapa setiap hari kita harus memakai baju yang match? Saya rasa alasannya bukan karena diri anda sendiri, tapi tuntutan dari orang lain yang senang atau ingin atau terbiasa melihat anda berpakaian matching.Anda ingin orang lain menilai anda sebagai orang yang normal, seperti kebanyakan orang yang memakai baju matching. Kemudian bila anda orang yang nyentrik, anda akan selalu memilih baju yang ‘nabrak’ dan tidak biasa. Saya rasa alasannya juga sama. Anda ingin orang lain melihat anda sebagai orang yang nyentrik, yang tidak biasa. Nah, lagi-lagi pencitraan.
Kemudian apa yang harus dilakukan?? Kenapa saya harus menjawab pertanyaan itu? Tulisan ini merupakan bagian dari pencitraan diri saya. Bagian dari drama hidup saya. Saya tidak perlu memaparkan siapa diri saya. Orang-orang bisa menilai semuanya dari perilaku dan kata-kata yang saya ucapkan. Karena memang begitulah lembar penilaiannya. Tapi satu yang perlu dicatat, saya membiarkan orang memberi penilaian sesuai apa yang saya citrakan, sesuai dengan penilaian yang memang ingin saya dapatkan dari orang-orang tersebut. Silahkan menilai...saya tidak akan menganggap serius penilaian anda. Because it’s just a drama.

My life,my rules, my drama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar